NAMA

October 8th, 2008 by yosieprodigy

“What’s in a name?”
“Apalah arti sebuah nama?”
Sinis Shakespeare..

“Nama lahir dari dorongan untuk menguasai.”
Curiga Foucault..

“Nama adalah simbolik,
Dan selalu merupakan nama ayah!”
Ketus Lacan..

Seolah-olah, hanya dengan nama
Ide tentang sesuatu yang ter-nama-i tersebut
Akan meloncat masuk ke otak kita
Seolah-olah, hanya dengan nama
Kita menghadirkan yang ter-nama-i tersebut
Ujug-ujug di depan kita

Mungkinkah?
Aku yang sedemikian kompleksnya
Sedemikian ruwetnya
Sedemikian tak terduganya
-bahkan aku sendiri tidak yakin siapa diriku
Dan rentetan kemustahian yang membalutku:
Mungkinkah aku di wakili oleh “nama”?

Aku mengendus pragmatisme di sini
Bau utilitarianisme pun semerbak
Isme-isme ini berusaha mengabaikan makna
Mereka berusaha melompati “yang tak terjelaskan”
Mereka menyederhanakan “yang kompleks”
Mereka menghindari konfrontasi dengan “yang tak terwakili”
Mereka menguasai “yang-yang” tadi dengan ‘nama’
Nama Ayah, si penguasa patriarkal
Kata mereka, “apalah arti sebuah nama?”
“toh mereka mau dinamai, dan dipanggil sesuai nama itu.”
Hahaha…

Yah.. memang enak sih punya nama
Aku tidak lagi dipanggil “eh..”, “si ini..”, “si itu..”
Hahha.. Enak saja, aku punya nama!
Nama ku unik, dalam hal: aku saja yang bernama seperti ini
Hahaha..

Kata Lacan, manusia memang menginginkan untuk menjadi unik
Unik didapat dari identitas
Manifestasi konkrit identitas, salah satunya nama
Kenapa ingin unik?
Sederhana: manusia ingin diakui keberadaannya.
Untuk itu, ia harus bisa membedakan diri dari yang lain,
Dengan kata lain: meng-unik¬-kan diri
Enak lah pokoknya kalau punya nama,
Apalagi nama bagus..

Wow.. semerbak idiologi tercium..
Bagus? Pasti ada “yang tidak bagus” donk?
Seperti apa bagus? Apa tandanya?
Kata Levi-Strauss, idiologi hanya dimungkinkan oleh topangan mitos
Lantas Barthes menimpali, mitos itu pengkristalan konotasi
Berbicara konotasi, berarti berbicara kait mengait rantai tanda asosiasi

Sederhana
‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘modern’
‘modern’ sering diasosiasikan ‘Barat’
Bisa ditebak nama bagus: “Mike”, “Laura”, “David”, “John”
Hahahhaha…
Masa orang Jawa namanya Mike Santoso???
Hahahaha….

Konotasi lain: ‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘eksotis’
‘eksotis’ erat kaitannya dengan ‘esoterik’, misterius maknanya
Bisa ditebak nama-nama bagus: “Sinta”, “Gayatri”, “Andika”, “Agnita”
Hahahaha…
Masa Sinta rambutnya kribo???
Hahahaha…

Bermain-main lagi dengan konotasi: ‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘relijius’
‘relijius’ biasanya berkaitan dengan ‘kitab suci’
Bisa ditebak nama-nama bagus: “Yohanes”, “Angel”, “Gabriel”, “Iqbal”, “Muhamad”
Hahahaha..
Masa Yohanes ketangkep ngutil di Carrefour???
Hahahaha…

Keasyikan nih: ‘Bagus’ biasanya punya kesan ‘herorik’, ‘patriotik’, ‘ksatria’
Langsung saja: “Abdi”, “Setyo”, “Sudirman”, “Soekarno”, “Arthur”, “Robin”, “Salahudin”,
Bahkan ada yang nekat: “Hercules”, “Clark Kent”, “Pitung”, dst.
Bayangkan teman anda bernama Hercules tapi berbadan ceking!
Hehehe..

Terakhir: nama-nama narsis yang mengklaim diri juga banyak,
“Bagus”, “Indah”, “Elok”, “Satria”, “Ratu”, “Bunga”, “Cantik”,
“Gadis”, “Gemilang”, “Untung”, “Melati”, dst..
Oalah bu.. sudah reyot kok masih dipanggil “Gadis”
Hahahhaa….

Maaf buat yang merasa punya nama diatas.
Maaf, cuma ilustrasi dan fiktif belaka – tidak ada maksud-maksud jelek.

Kontradiktif memang,
Seringkali, maksud penamaan bersebrangan dengan realita sang penyandang
Kemustahilan dalam sistem penandaan;
Mustahil sebuah nama mewakili atau menandakan suatu makna,
Makna yang, kata Goenawan Mohamad, tak “terpermanai”
Kata Tedjoworo, nama mengkhianati makna
Mereka berdua sepertinya mengikuti Derrida,
Yang pernah mengatakan, makna akan selalu tertunda, ter-defer
penundaan-penundaan ini merupakan strategi,
Strategi dari sang makna untuk direngkuh sang nama
Hanya jejak-jejak makna yang tersisa..

Setapak demi setapak..
Enduslah terus sang makna, sampai ke alam baka!
Tak akan kau temukan, sobat!

Eitss.. tapi ada yang nekat
Demi sebuah makna yang terkandung dalam nama ia rela meng-gong-i nama itu
Ia rela menyiksa diri untuk menjadi sesuai yang ditandakan nama itu
Ia fasis! Ia penyiksa diri! Ia skizofren! Ia tiran!

Deleuze dan Guattari mendramatisir,
Mereka men-tato dirinya dengan nama
Dipahatnya makna-makna itu ditubuh mereka
Kriiieeekkkk….
Yukkksss… mereka kejam pada tubuh mereka sendiri

“Namaku Cantik, tapi aku kok tidak cantik ya?”
“oh, aku tahu, aku akan operasi plastik: bibirnya Geri Halliwel seksi tuh”
“dagunya Titi Kamal juga menggairahkan”
“hmm… buah dadaku kecil nih: suntik aja deh”
“aaarrrhhh… aku telat lulur, kata dokter, kalau pengen kulit alus harus rajin lulur”
“jadi totalnya berapa mbak?”, “15 juta mbak, mau tunai atau gesek?”
“gesek deh mbak..”
“[wah limit nih, gak apa lah..
buka baru lagi aja deh buat nutupin ini, credit card ini..]”
“[tapi masih belum belanja Zara sama Bvlgari nih..]”
“[hmmm… gampang lah, makan dua kali sehari gak apa lah…]”

Ada lagi..
Aku sendiri lah..
Waktu pertama masuk kampus FISIP UNAIR, kampus Oranye
Aku diserbu nama-nama dan tanda yang (ehem..) luhur:
“mahasiswa”,
diikutii nama dan tanda lainnya, “kritis”, “progresif”, “pluralis”
“peduli”, “konstruktif”, “radikal”, dst.
Terbuai aku dengan predikat itu
Semuanya sukses mengakomodasi hasrat narsisku
Mereka cocok denganku: aku mau dinamai itu!
Aku merasa.. utuh.. dengan menyandang nama “mahasiswa”

Tapi aku lupa..
kritis itu apa? Progresif itu apa? Pluralis itu apa?
Peduli itu apa? Konstruktif itu apa? Radikal itu apa?
Mereka bersekongkol menipuku
Mereka berbusung dada seolah mereka punya makna
Mereka sok mengakomodasi hasratku
Mereka memonopoli pemaknaan
Aku hanya diperbolehkan ikut, ikut, dan ikut
Membebek… ya, membebek.
Muak aku..

Aku marah! Aku berontak!
Aku ingin namaku sendiri!
Kritisku. Progresifku. Pluralisku.
Peduliku. Konstruktifku. Radikalku.
Ini kehendak berkuasaku
Aku ingin mengisi makna
Aku ingin menguasai makna
Aku ingin mencipta makna
Aku ingin memonopoli makna

Maka, dengan rendah hati,
Aku katakan,
“Mari bertarung untuk itu”
“Mari bertarung untuk memaknai ‘yang tak terpermanai’ ”
“Mari bertarung mengisi yang profan”
“Ingat, musuhmu aku! Tak ada gunanya memanggil yang sakral untuk melawanku”
“Aku tidak takut!”, “Yang sakral-mu, tidak akan muat untuk mengisi nama-nama ini”
“Artinya, yang sakral-mu palsu! Selalu palsu!”
“Aku akan membunuhnya untuk membuktikannya!”
“Begitu pula dengan yang sakral-ku”
“Kita imbang!”
….
Pertanyaannya, “beranikah kamu?”

Namun, sebelum itu,
Perkenalkan: namaku “Hizkia Yosias Simon Polimpung”
Panggil saja “Yosie”
=)

Cinta, Tuhan, dan Kebenaran: Bunuh Saja!

October 5th, 2008 by yosieprodigy

Cinta, cinta, cinta
Tuhan, Tuhan, Tuhan
Kebenaran, kebenaran, kembenaran
Rasa hebat jika aku bisa mendengungkannya
Rasa bangga jika aku bisa mengajarkannya
Rasa suci jika aku merengkuh mereka

Tapi..
Apakah rasa-rasa itu tujuanku?
Hmmm…
Berpikir, berenung, berefleksi
Berkontemplasi, berduga-duga, bersangka-sangka
Ber… berantakan aku!

Tidak.. tidak..
Kalau lah itu tujuanku,
Lantas apa usahaku?
Mendengungkannya? Mengajarkannya?
Merengkuhnya?
Gila… bisakah aku?
Salah!: mungkinkah aku?
Atau lebih tepatnya: Cukup sucikah aku?

Aku sadar akan diriku yang profan
Aku fana, aku tak bermakna,
Aku gegar, aku retak
Aku hanya tabularasa, kertas kosong yang menunggu ditulisi
Aku hanya seonggok daging penuh nafsu,
Yang ironisnya tak tahu hendak menafsui apa
Aku hanya… aku

Bisakah aku yang aku ini merengkuh mereka
Mereka yang absolut
Mereka yang sakral
Mereka transendental
Hahahahha…
Hmmm.. jam berapa ini?
Jangan-jangan aku mimpi di siang bolong

Bisa saja pungguk merindukan bulan
Bisa saja si unyil berambisi memeluk gunung
Bisa juga Sisifus berusaha menundukan dewa-dewa
Sukesi pun bisa berambisi menguasai Sastra Jendra
Hahaha.. bisakah mereka???
Hahahaha.. Hahahaha..

Siapa yang ku tertawakan?
Aku pun seperti mereka
Aku ingin tahu rahasia Ilahi
Aku ingin memahami kebenaran
Aku ingin memiliki cinta sejati
Bisakah aku? Mungkinkah aku?
Cukup sucikah aku?

Ahh.. air mata ini jatuh lagi
Aku sadar semua sia-sia
Tidak mungkin aku yang profan bisa menampung yang sakral
Tidak mungkin aku yang retak bisa menampung yang absolut
Sedih, kalut, kecewa,
Bimbang, ragu,
Gelisah, tak karuan,
Marah!!!

Aku marah!
Aku dibohongi!
Mereka bilang ini Tuhan!
Dia bilang ini cinta!
Kalian bilang ini kebenaran!
You guys are talking shit!

Ahhhh…. Hilang peganganku..
Terhuyung-huyung batinku akan ketidakpastian ini
Sempoyongan rasioku dibuatnya
Aku butuh keteraturan!
Aku butuh tatanan!
Aku butuh penjelasan akan semua ini!
Aku butuh rasionalisasi!
Aku butuh keutuhan!
Aku butuh kehangatan!

Aku takut akan ketidak pastian ini
Aku takut akan irasionalitas ini
Aku khawatir akan keretakan ini
Aku sekarat akan kedinginan ini

Aku….
Aku harus balas dendam!
Kupungut puing-puing rasioku
Kusatukan serpihan-serpihan hatiku
Kurapatkan retakan-retakan batinku
Kembalikan cintaku, Tuhanku, kebenaranku!
“Tidak ada?”

Hahahahhahahaha…
Memang tidak ada!
Cinta hanya dongeng!
Tuhan itu mistis!
Kebenaran hanya retorik!

Sialaaaaaaaannnnnn
Tapi aku butuh mereka!
Aku butuh mereka!
Aku butuh mereka!
Kemarikan!
Dada ini sesak,
Mataku memerah ingin menitikan air mata
Bulu kuduk merinding
Sesak tenggorokanku

Lalu apa?
Sialan, pertanyaan ini membuatku malu
Malu aku dibohongi
Malu aku ditipu
Malu aku dimuslihati
Malu aku tak tahu harus bagaimana
Malu aku masih hidup

Tunggu dulu..
Hidup? Ya.. hidup
Hahahaha…
Aku hidup! Aku masih hidup!
Hahahaha…
Tak pernah aku sesenang ini

Apalah kebenaran
Siapalah tuhan
Bagaimanalah cinta
Yang penting aku hidup!

Menggelegak jantungku
Mendidih darahku
Urat nadiku sontak tegang
Jantungku berdebar-debar kencang
Tubuhku bangkit lagi
Sendi-sendiku mulai bergairah
Mataku mulai berbinar-binar
Alisku memicingkan dirinya
Nafasku memburu
I’m alive!

Tandanya…
Bersiaplah wahai cinta, Tuhan, dan kebenaran
Kukejar kau sampai keujung dunia
Melewati tembok cina
Mendaki patung liberti
Menyelami laut mati
Mengitari borobudur
Kutangkap kalian!
Kurengkuh kalian!

Kubunuh kalian!

Hahaha…
Hahaha…

Hah?!?
Aku berdarah
Aku luka
Kepalaku berlobang
Dadaku sobek
Punggungku tertikam
Siapa yang kubunuh?
Siapa yang kutikam?
Siapa yang kutembak?
Ternyata…
Aku.. bunuh.. diri..
Bo… … doh …

Korslet

July 31st, 2008 by yosieprodigy

Korslet[*]

Korslet, atau hubungan pendek (short circuit), terjadi saat terdapat ‘hubungan yang tidak semestinya’ (faulty connection) dalam suatu jaringan – ‘tidak semestinya’, tentu saja, dari sudut pandang berfungsinya jaringan tersebut dengan mulus. Bukankah kejutan dari korslet tadi merupakan salah satu metafora terbaik untuk sebuah ‘pembacaan kritis’? Bukankah salah satu prosedur kritis yang paling efektif untuk mengkorsletkan kabel-kabel yang jarang bersentuhan: mengambil karya besar klasik (teks, pengarang, gagasan), dan membacanya dengan cara ‘mengkorsletkannya’, dengan menggunakan lensa pengarang, teks, atau seperangkat gagasan ‘minor’? – (kata ‘minor’ disini sebaiknya dimengerti dalam arti sebagaimana yang dimaksudkan oleh Giles Deleuze: bukan tentang ‘yang kurang / tidak berkualitas’, tetapi tentang yang termarginalisasi, disangkal oleh idiologi yang hegemonik, atau yang bergulat dengan topik yang ‘rendahan’ atau kurang serius). Jika referensi minor tersebut telah dipilih dengan baik, maka prosedur [kritis] tersebut akan berujung pada pandangan-pandangan / pemahaman-pemahaman yang menggoyahkan dan [bahkan] membongkar persepsi-persepsi umum kita [tentang karya besar klasik tersebut]. Inilah yang dilakukan oleh Marx , diantara pemikir-pemikir lainnya, terhadao filsafat dan agama (mengkorsletkan spekulasi filosofis lewat lensa ekonomi politik, yaitu spekulasi ekonomis); inilah yang dilakukan Freud dan Nietzsche terhadap moralitas (mengkorsletkan gagasan etis tertinggi [dalam strata moralitas] lewat lensa ekonomi[†] hasrat bawah sadar). Apa yang dihasilkan oleh pembacaan-pembacaan seperti ini bukanlah suatu “desublimasi” sederhana, suatu reduksi substansi pemikiran yang lebih tinggi kepada penyebab-penyebab ekonomi atau libidinalnya saja; maksud dari pendekatan semacam ini adalah, justru, peminggiran-dari-pusat (decentering) teks yang sedang ditafsirkan, yang berikutnya akan menampilkan hal-hal yang tak terpikirkan oleh teks tersebut, pra-anggapan - pra-anggapan dan konsekuensi-konsekuensi yang disangkalnya, yang notabene merupakan bagian inheren darinya.

Inilah yang dilakukan .. [“pemikiran-pemikiran korslet”] ..: lagi dan lagi. … …  [tujuannya adalah] menampilkan ‘teks standar’ [semacam meta-narasi] atau formasi idiologis, membuatnya dapat dibaca dengan cara yang sama sekali berbeda. … [lalu] membangkitkan suatu praktik pembacaan yang mengkongfrontasi teks, pengarang, atau gagasan klasik dengan pra-anggapan – pra-anggapan terselubungnya, dan dengan demikian menyingkap kebenaran-kebenaran yang disangkalnya. [Dengan pembacaan korslet ini,] pembaca tidak hanya belajar sesuatu yang baru: poinnya adalah, membuat sang pembaca sadar (aware) akan sisi-sisi lain – yang mengganggu – dari sesuatu yang diketahui atau dipercayainya selama ini.

Hizkia Y.S. Polimpung

Amor Fati !



[*] Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari sambutan atau pengantar Slavoj Zizek bagi buku-buku “seri Short Circuit” yang dieditnya, yang diterbitkan oleh MIT Press. Karena sambutan tersebut dimaksudkan untuk mengantarkan seri buku, dan bukan memperkenalkan gagasan “korslet”, maka penulis memodifikasinya (memotong teks tanpa mengubah pesan) dan memberi judul sebagaimana penulis anggap sesuai. Kata-kata dalam kurung siku, [ ], merupakan usaha penulis untuk menyelaraskan kalimat dengan tujuan penulis, yaitu mengangkat gagasan ‘korslet’ yang inheren dalam teks tersebut. Pemotongan-pemotongan dan penambahan-penambahan ini tentunya subjektif penulis, maka dari itu silakan memeriksa teks asli yang penulis jadikan acuan, yaitu : Slavoj Zizek, 2006, The Parallax View, MIT Press.

[†] Ekonomi disini sebaiknya tidak dilihat secara sempit: sebagai aktivitas yang berkaitan dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga fisik (sandang, pangan, papan, dst.), tetapi lebih luas, yaitu sebagai aktivitas untuk memenuhi keinginan-keinginan hasrati / libido, atau ’kebutuhan rumah tangga bawah sadar.’

Evaluasi Cinta? Trikotomi Hasrat “Like-Lust-Love”

July 26th, 2008 by yosieprodigy

“Love don’t cost a thing”

Jennifer Lopez

“Cinta itu seperti pisang, harus dikuliti dahulu untuk mendapatkan buahnya”

Anonim

            Tulisan ini, selain untuk killing my time, bertujuan untuk menjadi semacam “manual”[1] untuk mengevaluasi cinta –salah satu bentuk hasrat. Boro-boro mengevaluasi, omong kosong tentunya kalau yang namanya “cinta” saja tidak dapat “dijelaskan”[2]. Oleh karena itu sebelum mencoba menawarkan manual, penulis akan menguraikan secara singkat (seperti) apa itu “cinta”. Sedikit “bocoran”, untuk hal ini penulis akan menggunakan Psikoanalisis, dengan beberapa modifikasi tentunya. Namun sebelumnya, mungkin akan lebih berguna apabila kaitan manusia-hasrat dipaparkan terlebih dahulu, secara manusia (kata Jacques Lacan) merupakan “gumpalan daging pembungkus” hasrat tersebut.

Karena dimaksudkan untuk menjadi suatu manual, maka penulis berusaha tidak menggunakan kalimat-kalimat puitis, romantis-buta, muluk, apalagi utopis. Satu lagi, tulisan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai manual untuk analisis diri sendiri, namun demikian tidak menutup kemungkinan digunakan untuk menganalisis orang lain, especially yang (kita curigai) menjadi kekasih hati kita.

Manusia dan Hasrat

            Bagaimanakah hubungan manusia dengan hasrat? Pertanyaan ini memang kurang begitu populer dipertanyakan, terutama bagi mereka yang bergelut di bidang sains, demikian pula dengan ilmu sosial, terutama yang beraliran rasionalis-empirisis-positivis. Namun ternyata ada beberapa pemikir “menyimpang” yang lumayan peduli dengan hal ini. Bagi beberapa pemikir ini, manusia tak lebih dari suatu libido-maximizer (Sigmund Freud), yang terus berusaha memaksimalisasi pemenuhan hasrat yang notabene terus bereproduksi. Manusia selalu berada dalam kondisi Lack / berkekurangan (Jacques Lacan), dan hanya hasrat yang dapat memenuhi kekurangan (lackness) tersebut. Pemikiran yang lebih radikal menganggap bahwa manusia merupakan hollowed subject / subyek berlubang (Slavoj Žižek), dan selama hidupnya, manusia akan berusaha menutupi lubang tersebut dengan hasrat. Namun itu semua sia-sia, hasrat bukanlah susuatu yang dapat dipenuhi sekali untuk selamanya. Hasrat pada hakikatnya tidak terbatas, ia akan terus bereproduksi dalam diri manusia tanpa henti-hentinya. Inilah yang membuat dua orang pemikir paling radikal dalam Psikoanalisis menyebut manusia sebagai desiring machine / mesin hasrat (Gilles Deleuze & Félix Guattari). Yang lebih memalukan lagi, sebenarnya manusia tidak tahu harus menghasrati apa, akibatnya manusia mencampur-adukan hasratnya dengan hasrat orang lain, singkatnya manusia meniru hasrat orang lain. Ya … manusia memang mimetor / peniru yang handal (René Girard).

            Dari sekian banyak pemikir yang concern dengan hasrat sebagaimana disebut diatas, paling tidak bisa didapat suatu pemahaman bagaimana pertimbangan-pertimbangan yang diambil oleh manusia dalam melakukan (segala) sesuatu, tidak lain adalah pertimbangan hasrat.[3] Obyek hasrat tersebut bervariasi, bisa barang, aktivitas, Tuhan, pekerjaan, dan tentunya manusia lain (baca: pacar, suami/istri, kekasih, bojo, dst.). Namun demikian, tulisan ini cuma ingin menyoroti hasrat yang terarahkan pada manusia (lain). Hasrat tersebut setidaknya memiliki tiga “perwujudan”, yaitu …

Like-Lust-Love[4]

Setidaknya ada tiga manifestasi atau perwujudan hasrat, yaitu yang penulis sebut Like, Lust, dan Love. Yang pertama, Like, merupakan merupakan hasrat terhadap suatu citra atau imaji tubuh yang utuh (bhs. Jermannya gestalt). Ada yang menyebutnya Imaginary Diva/Divo (wanita/pria idaman/bayangan). Yang terpenting dari hasrat Like, adalah rujukan / referensinya yang merupakan suatu kesatuan tubuh. Contoh, Bella menghasrati pria seperti (like) Brad Pitt; Thomas mengidamkan wanita yang bertubuh tinggi seperti Milla Jovovich, rambut pendek seperti Demi Moore, plus berjari lentik seperti Inul; dst. Dengan demikian, siapapun yang cocok dengan citra tersebut, atau paling tidak mendekati, maka dia akan menjadi objek hasrat.

Lust, merupakan hasrat yang bertumpu pada stigma/cap/simbolisasi, dan yang lebih utama, ia merupakan hasrat terhadap citra tubuh yang parsial. Misalnya, Anggi yang menyukai pria “macho”, menghasrati Bona yang berbadan kekar. Bagi Anggi, “kekar” merupakan simbolisasi “macho”. Jadi, yang Anggi hasrati sebenarnya adalah ke-macho-an itu sendiri, dan Bona kebetulan saja memiliki simbolisasi dari “macho” tadi. Contoh lain, Joni sedang ingin melampiaskan nafsu berahinya. Dan belakangan ia mengejar-ngejar Lila yang memiliki dada yang besar. Bagi Joni, “dada besar” merupakan simbolisasi dari “kenikmatan berahi”. Jadi yang dikejar oleh Joni bukanlah si Lila tapi justru kenikmatan yang didapat Joni saat (ehem…sori) “mengutak-atik” dada Lila.

Terakhir Love. Bentuk hasrat ini merupakan yang paling sulit, bahkan menurut penulis mustahil untuk dimengerti. Love merupakan hasrat yang tidak akan pernah dapat terjelaskan oleh bahasa, kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menggambarkannya. Shakespeare, Wordsworth, dan sastrawan dunia lain pun mengakui demikian. Love tidak memiliki rujukan layaknya Like dan Lust. Fenomena-fenomena “yang tidak bisa diterima akal sehat” seperti saat gadis yang sangat cantik mendapatkan lelaki yang kumal, atau saat seorang pria tampan kaya raya mendapatkan janda miskin yang lebih tua 20 tahun darinya (dan mereka semua hidup bahagia), menunjukan bagaimana love don’t cost a thing, bahkan ada yang bilang juga “cinta itu buta,” dsb.

Saat Love menghampiri, maka bisa dipastikan manusia tidak akan dapat melawannya. Yang manusia bisa lakukan hanyalah merepresinya kuat-kuat. Namun itu pun sia-sia, Love akan berusaha terus muncul sehingga manusia haru mencarikan pelampiasan-pelampiasan atau pelarian-pelarian baginya. Dan satu hal terpenting, saat pelampiasan dan pelarian hasrat Love itu terjadi, sang manusia akan merasa sangat tersiksa, kesakitan, dan merana. Seorang psikolog mengatakan “… cinta sejati menggejala sebagai kapitulasi (penyerahan) diri total …” (Fuad Hassan). So, just let it flow! (Deleuze)

Evaluasi?

Trikotomi hasrat ini (Like-Lust-Love), sebenarnya saling terjalin ruwet satu sama lain. Bisa saja seseorang memiliki dua atau bahkan ketiganya secara sekaligus, dan itu bukanlah masalah. Yang terpenting adalah saat seseorang tersebut tahu efek maupun durabilitas (ketahanan) tipe hasrat masing-masing. Lust relatif paling cepat menguap, contoh: one night stand, bercinta dengan pria/wanita panggilan, dst. Like hanya bertahan selama sang objek hasrat (kekasih, pacar, dst.) mampu “mempertahankan diri” untuk tetap sama seperti imajinasi atau citra bayangan sang sang pecintanya. Biasanya saat sifat-sifat jelak sang kekasih terlihat, sang subyek mulai il-fil (ilang-feeling); atau saat sang kekasih terkena musibah yang membuatnya kehilangan “kesamaan” dengan citra imajiner sang pecintanya. Satu cara yang bisa penulis ajukan untuk mengevaluasi Love, tanyakan saja pada diri sendiri: “kenapa kita mencintai kekasih kita?” Mudah saja, jika kita bisa menjawabnya, apalagi dengan jelas dan lugas, maka bisa dipastikan itu bukan yang namanya Love. Ingat, cinta tak terbahasakan! 



[1] Mohon maaf bagi yang keberatan dengan penggunaan kata ini.

[2] Lagi-lagi mohon  maaf bagi yang keberatan dengan penggunaan kata ini.

[3] Diskusi lebih jauh terkait kaitan manusia-hasrat, silakan baca Écrits (J. Lacan), Ticklish Subject (S. Žižek), Desire, Deceit, and the Novel (R. Girard), dan Anti-Œdipus (Deleuze-Guattari). Yang berminat silakan hub penulis =)

[4] Ketiganya merupakan interpretasi lebih lanjut penulis terhadap hasrat menurut Psikoanalisis J. Lacan.

Iman dan Teks : Tatal-tatal GM

July 26th, 2008 by yosieprodigy

Salahkah bila Yang Maha Kudus tak hanya dibayangkan sebagai Sabda yang datang dari sunyi ke bunyi? Bukankah kita tak hanya punya telinga, tapi juga mata? …
Tapi jadi manusia adalah menanggungkan yang tragis: Tuhan tak juga memperlihatkan wajah-Nya. Selama 40 hari 40 malam, menurut Alkitab, Musa bekerja tak makan roti tak minum air. ia tuliskan segala perkataan Tuhan, dan kesepuluh Firman akhirnya terpahat pada loh batu.
Dan teks pun jadi. Seperti wahyu Tuhan yang ditulis, dikodifikasikan, dan dijilid sebagai Qur’an, suara pun jadi aksara. (Tatal no. 27)

Pengalaman relijius, seperti nasib dalam gambaran satu sajak Chairil Anwar, adalah "kesunyian masing-masing". Tapi ada yang disebut oleh William James sebagai "the individual pinch of destiny" itu pada akhirnya juga disentuh dan menyentuh bahasa manusia. Bahasa lahir dari konvensi masyarakat, mengandung sifat represif terhadap pengalaman-pengalaman yang unik - satu hal yang menyebabkan Roland Barthes menyebut bahasa sebagai "fasis".
Tapi pada tiap bahasa, selalu ada sesuatu yang memungkiri kesepakatan, berlindung di sebuah ruang yang selama ini tergusur..
pada detik seperti itulah pengalaman relijius, perasaan akan kehadiran Tuhan, terasa luput dari alfabet. Pada akhirnya alfabet juga sebuah organisasi, urutan yang hanya dihafal dan tak perlu dihayati.
Iman yang tergantung kepadanya akan jadi kepercayaan yang tampak kuat, teratur, tapi seperti tentara berseragam: sebuah mesin pertahanan dan agresi. (Tatal no. 16)

….
Pada saat .. seluruh rasa gentar dan takjub kepada sang Suci digantikan oleh yang lebih terkendali: akidah. Akidah adalah sebilah garis yang dingin, sebuah oposisi terhadap krisis. Kita berlindung di bawah bayang-bayang kedatarannya. (Tatal no. 20)


Wacana yang mengutamakan yang kekal selalu mencoba menghalau yang tak pasti, yang hanya melintas dan berubah dari politik. Tapi akhirnya hanya itu juga yang termaktub di Bumi. (Tatal no. 47)

Source: Goenawan Mohamad, 2008, "Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai". jakarta: KATAKITA