NAMA
October 8th, 2008 by yosieprodigy“What’s in a name?”
“Apalah arti sebuah nama?”
Sinis Shakespeare..
“Nama lahir dari dorongan untuk menguasai.”
Curiga Foucault..
“Nama adalah simbolik,
Dan selalu merupakan nama ayah!”
Ketus Lacan..
Seolah-olah, hanya dengan nama
Ide tentang sesuatu yang ter-nama-i tersebut
Akan meloncat masuk ke otak kita
Seolah-olah, hanya dengan nama
Kita menghadirkan yang ter-nama-i tersebut
Ujug-ujug di depan kita
Mungkinkah?
Aku yang sedemikian kompleksnya
Sedemikian ruwetnya
Sedemikian tak terduganya
-bahkan aku sendiri tidak yakin siapa diriku
Dan rentetan kemustahian yang membalutku:
Mungkinkah aku di wakili oleh “nama”?
Aku mengendus pragmatisme di sini
Bau utilitarianisme pun semerbak
Isme-isme ini berusaha mengabaikan makna
Mereka berusaha melompati “yang tak terjelaskan”
Mereka menyederhanakan “yang kompleks”
Mereka menghindari konfrontasi dengan “yang tak terwakili”
Mereka menguasai “yang-yang” tadi dengan ‘nama’
Nama Ayah, si penguasa patriarkal
Kata mereka, “apalah arti sebuah nama?”
“toh mereka mau dinamai, dan dipanggil sesuai nama itu.”
Hahaha…
Yah.. memang enak sih punya nama
Aku tidak lagi dipanggil “eh..”, “si ini..”, “si itu..”
Hahha.. Enak saja, aku punya nama!
Nama ku unik, dalam hal: aku saja yang bernama seperti ini
Hahaha..
Kata Lacan, manusia memang menginginkan untuk menjadi unik
Unik didapat dari identitas
Manifestasi konkrit identitas, salah satunya nama
Kenapa ingin unik?
Sederhana: manusia ingin diakui keberadaannya.
Untuk itu, ia harus bisa membedakan diri dari yang lain,
Dengan kata lain: meng-unik¬-kan diri
Enak lah pokoknya kalau punya nama,
Apalagi nama bagus..
Wow.. semerbak idiologi tercium..
Bagus? Pasti ada “yang tidak bagus” donk?
Seperti apa bagus? Apa tandanya?
Kata Levi-Strauss, idiologi hanya dimungkinkan oleh topangan mitos
Lantas Barthes menimpali, mitos itu pengkristalan konotasi
Berbicara konotasi, berarti berbicara kait mengait rantai tanda asosiasi
Sederhana
‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘modern’
‘modern’ sering diasosiasikan ‘Barat’
Bisa ditebak nama bagus: “Mike”, “Laura”, “David”, “John”
Hahahhaha…
Masa orang Jawa namanya Mike Santoso???
Hahahaha….
Konotasi lain: ‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘eksotis’
‘eksotis’ erat kaitannya dengan ‘esoterik’, misterius maknanya
Bisa ditebak nama-nama bagus: “Sinta”, “Gayatri”, “Andika”, “Agnita”
Hahahaha…
Masa Sinta rambutnya kribo???
Hahahaha…
Bermain-main lagi dengan konotasi: ‘Bagus’ biasanya konotasinya ‘relijius’
‘relijius’ biasanya berkaitan dengan ‘kitab suci’
Bisa ditebak nama-nama bagus: “Yohanes”, “Angel”, “Gabriel”, “Iqbal”, “Muhamad”
Hahahaha..
Masa Yohanes ketangkep ngutil di Carrefour???
Hahahaha…
Keasyikan nih: ‘Bagus’ biasanya punya kesan ‘herorik’, ‘patriotik’, ‘ksatria’
Langsung saja: “Abdi”, “Setyo”, “Sudirman”, “Soekarno”, “Arthur”, “Robin”, “Salahudin”,
Bahkan ada yang nekat: “Hercules”, “Clark Kent”, “Pitung”, dst.
Bayangkan teman anda bernama Hercules tapi berbadan ceking!
Hehehe..
Terakhir: nama-nama narsis yang mengklaim diri juga banyak,
“Bagus”, “Indah”, “Elok”, “Satria”, “Ratu”, “Bunga”, “Cantik”,
“Gadis”, “Gemilang”, “Untung”, “Melati”, dst..
Oalah bu.. sudah reyot kok masih dipanggil “Gadis”
Hahahhaa….
Maaf buat yang merasa punya nama diatas.
Maaf, cuma ilustrasi dan fiktif belaka – tidak ada maksud-maksud jelek.
Kontradiktif memang,
Seringkali, maksud penamaan bersebrangan dengan realita sang penyandang
Kemustahilan dalam sistem penandaan;
Mustahil sebuah nama mewakili atau menandakan suatu makna,
Makna yang, kata Goenawan Mohamad, tak “terpermanai”
Kata Tedjoworo, nama mengkhianati makna
Mereka berdua sepertinya mengikuti Derrida,
Yang pernah mengatakan, makna akan selalu tertunda, ter-defer
penundaan-penundaan ini merupakan strategi,
Strategi dari sang makna untuk direngkuh sang nama
Hanya jejak-jejak makna yang tersisa..
Setapak demi setapak..
Enduslah terus sang makna, sampai ke alam baka!
Tak akan kau temukan, sobat!
Eitss.. tapi ada yang nekat
Demi sebuah makna yang terkandung dalam nama ia rela meng-gong-i nama itu
Ia rela menyiksa diri untuk menjadi sesuai yang ditandakan nama itu
Ia fasis! Ia penyiksa diri! Ia skizofren! Ia tiran!
Deleuze dan Guattari mendramatisir,
Mereka men-tato dirinya dengan nama
Dipahatnya makna-makna itu ditubuh mereka
Kriiieeekkkk….
Yukkksss… mereka kejam pada tubuh mereka sendiri
“Namaku Cantik, tapi aku kok tidak cantik ya?”
“oh, aku tahu, aku akan operasi plastik: bibirnya Geri Halliwel seksi tuh”
“dagunya Titi Kamal juga menggairahkan”
“hmm… buah dadaku kecil nih: suntik aja deh”
“aaarrrhhh… aku telat lulur, kata dokter, kalau pengen kulit alus harus rajin lulur”
“jadi totalnya berapa mbak?”, “15 juta mbak, mau tunai atau gesek?”
“gesek deh mbak..”
“[wah limit nih, gak apa lah..
buka baru lagi aja deh buat nutupin ini, credit card ini..]”
“[tapi masih belum belanja Zara sama Bvlgari nih..]”
“[hmmm… gampang lah, makan dua kali sehari gak apa lah…]”
Ada lagi..
Aku sendiri lah..
Waktu pertama masuk kampus FISIP UNAIR, kampus Oranye
Aku diserbu nama-nama dan tanda yang (ehem..) luhur:
“mahasiswa”,
diikutii nama dan tanda lainnya, “kritis”, “progresif”, “pluralis”
“peduli”, “konstruktif”, “radikal”, dst.
Terbuai aku dengan predikat itu
Semuanya sukses mengakomodasi hasrat narsisku
Mereka cocok denganku: aku mau dinamai itu!
Aku merasa.. utuh.. dengan menyandang nama “mahasiswa”
Tapi aku lupa..
kritis itu apa? Progresif itu apa? Pluralis itu apa?
Peduli itu apa? Konstruktif itu apa? Radikal itu apa?
Mereka bersekongkol menipuku
Mereka berbusung dada seolah mereka punya makna
Mereka sok mengakomodasi hasratku
Mereka memonopoli pemaknaan
Aku hanya diperbolehkan ikut, ikut, dan ikut
Membebek… ya, membebek.
Muak aku..
Aku marah! Aku berontak!
Aku ingin namaku sendiri!
Kritisku. Progresifku. Pluralisku.
Peduliku. Konstruktifku. Radikalku.
Ini kehendak berkuasaku
Aku ingin mengisi makna
Aku ingin menguasai makna
Aku ingin mencipta makna
Aku ingin memonopoli makna
Maka, dengan rendah hati,
Aku katakan,
“Mari bertarung untuk itu”
“Mari bertarung untuk memaknai ‘yang tak terpermanai’ ”
“Mari bertarung mengisi yang profan”
“Ingat, musuhmu aku! Tak ada gunanya memanggil yang sakral untuk melawanku”
“Aku tidak takut!”, “Yang sakral-mu, tidak akan muat untuk mengisi nama-nama ini”
“Artinya, yang sakral-mu palsu! Selalu palsu!”
“Aku akan membunuhnya untuk membuktikannya!”
“Begitu pula dengan yang sakral-ku”
“Kita imbang!”
….
Pertanyaannya, “beranikah kamu?”
Namun, sebelum itu,
Perkenalkan: namaku “Hizkia Yosias Simon Polimpung”
Panggil saja “Yosie”
=)